Awal dari Jeans : Barang fashion yang tetap eksis tanpa dipengaruhi zaman
Halo semua... :) Kali ini saya akan
membahas celana yang paling populer di dunia yang dari dulu hingga sekarang
tetap eksis, Jeans adalah sebuah celana yang dibuat dari bahan denim. Saya akan
membahas asal mula barang fashion yang satu ini.
Denim adalah bahan pembuatan celana
Jeans. Denim tercipta di sebuah kota di Perancis, yaitu Nimes. Awalnya bahan
ini disebut ‘Serge de Nimes’ kemudian di singkat menjadi de Nime atau lebih
populer di sebut Denim. Denim merupakan material kain kokoh yang terbuat dari
kain katun twill. Ada juga yang menyebutkan kain denim ini terbuat dari wool
serta terdapat juga denim dengan bahan dasar sutra yang dicampur wool.
Celana Denim pertama kali dibuat pada tahun 1560-an di Genoa,
Italia, yang dibuat untuk keperluan angkatan laut karena bahannya yang
memungkinkan digunakan dalam keadaan basah dan kering. Bahan denim yang dibuat
menjadi celana disebut jeans dan berasal dari bahasa Perancis, bleu de genes,
atau celana biru dari Genoa.
Pada tahun 1800 an di Genoa
dicoba membuat celana dari bahan kain denim ini. Ternyata celana dari denim ini
banyak yang menyukai tidak hanya masyarakat Genoa melainkan juga warga
Perancis. Dari sinilah penyebutan istilah jeans berasal. Masyarakat Perancis
menamai celana dari denim buatan Genoa dengan nama Genes atau celana dari
Genoa. Orang Inggris dan Amerika melafalkannya menjadi Jeans. Jadi jelaslah
kain denim itu bahan untuk membuat celana yang dinamai Jeans atau di indonesia
disebut Jins.
Jacob Davis Levis Strauss
Awal mula
pembuatan celana jeans dimulai dari seseorang yang bernama Levi Strauss, pemuda
berumur 24
tahun yang berasal dari Bavaria (Jerman), Eropa. Strauss berangkat ke San
Fancisco pada tahun 1853
dengan bermodal beberapa potong tekstil yang akan dijual ke Barat. Pada saat
itu di Amerika Serikat sedang demam tambang emas, dan Strauss mencoba
peruntungannya dengan menjual tekstilnya kepada para penambang emas. Strauss
berhasil menjual seluruh barangnya kecuali tenda-tenda yang terbuat dari
kanvas.
Kemudian dari sisa potongan kanvas
tersebut, Strauss membuat beberapa potong celana untuk kemudian dijual kembali
kepada para pekerja tambang. Dan ternyata para pekerja tambang tersebut
menyukai celana kanvas buatan Strauss. Hal ini dikarenakan celana kanvas tahan
lama, tidak mudah rusak ataupun sobek.
Kemudian dia mulai berimprovisasi dengan membuat
dari bahan lain yang dipesan dari Genoa Italia. Para pemintal di sana menyebut
bahan tersebut dengan “genes”
dan Strauss mengubah namanya menjadi “Jeans”
dan mulailah Strauss memproduksi celana jeans yang pertama dan diberi merk “Levi’s”.
Salah satu dari banyak pelanggan Levi
adalah seorang penjahit bernama Jacob Davis. Berasal dari Latvia, Jacob tinggal
di Reno, Nevada, dan secara teratur membeli gulungan kain dari toko grosir Levi
Strauss & Co, di antara pelanggan Jacob adalah orang-orang yang mengalami
kesulitan, yaitu kantong celana mereka yang selalu robek. Jacob mencoba
memikirkan cara untuk memperkuat celana tersebut, dan suatu hari mendapatkan
ide menempatkan paku logam keling pada titik-titik yang penting, seperti pada
sudut-sudut kantong.
Celana berpaku ini segera
populer diantara pelanggan Jacob dan ia khawatir seseorang mungkin akan mencuri
ide besar ini. Dia memutuskan harus mengajukan permohonan paten, tetapi tidak
memiliki $ 68 yang dibutuhkan untuk mengajukannya. Dia membutuhkan mitra bisnis
dan ia segera menghubungi Levi Strauss.
Jeans yang pertama dibuat itu belum
berseri, hanya disebut XX. Karena kekuatannya
membuat Levi berani menggunakan simbol celana jeans yang ditarik dua ekor kuda
namun tidak robek. Logo tersebut mulai dipakai tahun 1886 dan masih ditemukan
pada setiap celana Levi’s hari ini.
Baru
pada tahun 1890, celana yang dikenal sebagai XX itu diberi seri 501, dan
menjadi seri paling populer di dunia
hingga sekarang.
Logo Levi's
Produk desain pertama memang awalnya dikhususkan
bagi para penambang emas. Celana ini memiliki 5 saku, 2 di belakang dan 2 di
depan, dan 1 saku kecil dalam saku depan sebelah kanan.
Jeans pertama itu memakai bahan denim
warna biru, bahan yang biasa dipakai para pekerja lapangan. Saat itu di pantai
barat Amerika sedang ada demam emas. Maka Levi yang memusatkan pemasarannya di
San Fransisco segera memperoleh pasar karena jeans yang mereka buat dirasa kuat
dan cocok untuk pekerja.
Dalam waktu singkat celana Levi’s menjadi celana resmi
para penambang, dan celana ini kian populer di kalangan pekerja tambang,
sehingga akhirnya menjadi simbol status ekonomi yang diasosiasikan dengan
celana kelas pekerja. Pada tahun 1920, Waist Overalls menjadi produk celana
kerja yang paling laku di bagian Selatan Amerika.
Para penambang Amerika abad ke-19
Ketika paten berakhir, puluhan produsen
garmen mulai meniru pakaian berpaku asli yang dipopulerkan oleh Levi Strauss
& Co. Waist
overalls, adalah nama tradisional untuk celana
kerja, sebutan pertama kali untuk apa yang sekarang kita kenal sebagai jeans.
Kata jeans menjadi lebih populer sekitar tahun 1960 ketika generasi baby-boom mengadopsi
istilah baru untuk jenis celana favoritnya celana, celana blue jeans.
Pada tahun 1950, anak-anak sekolah
menempatkan jeans sebagai cara radikal mendefinisikan jati diri mereka, yang
ingin diakui dan menjadi lebih dewasa dan juga berbahaya dan memberontak
terhadap orang dewasa karena orang dewasa tidak memakai celana jeans. Satu
dekade kemudian, blue jeans menjadi simbol egalitarianisme, seragam bagi baby
boomer dewasa muda untuk melancarkan perang antar generasi. Pada tahun
1970-an, awal kemunculan budaya selebriti, celana jeans menjadi barang seksi
dan memasuki dunia fashion.
Tahun 1970 adalah masa
dimana Denim atau jeans diproduksi massal, dan moment inilah yang kemudian
menjadikan denim/ jeans mencapai puncak popularitasnya. Tahun 1970-an ketika
Barat dilanda “endemi” hippie, jins menjadi salah satu atribut yang melekat
pada mereka, menjadi simbol pemberontakan terhadap kemapanan. Tidak jarang
“para pemberontak” itu sengaja mengoyak-ngoyak celana jins mereka untuk
mempertegas penolakan mereka pada kemapanan.
Tahun 1990-an denim populer di
lantai-lantai dansa negara barat, digunakan di red carpet dan menciptakan gaya
busana aneh, mulai dari jeans grunge born-to-be-torn hingga jeans baggy hip-hop.
Setelah
dua abad terus bertahan, jeans sudah benar-benar naik kelas, dari pakaian
pekerja kasar di Amerika, kini menjadi pakaian paling fashionable dan wearable
yang pernah ada. Tidak
ada item pakaian yang lebih Amerika dibandingkan blue jeans yang ditemukan dan
disempurnakan pada kuartal terakhir abad ke-19 oleh Jacob Davis dan Levi
Strauss. Kedua imigran visioner ini, mengubah denim, benang dan logam kecil
menjadi produk pakaian yang paling populer di dunia dan
tetap bertahan di era fashion yang selalu berubah-ubah.








Comments
Post a Comment